Waktu itu
Aku pertama kali melihatnya
Beraksi dengan jemari tangannya
Menggiring bola menuju keranjangnya
Waktu itu
Aku bertanya
Siapakah dia?
Bolehkah aku tahu namanya
Dan beteman dengannya
Waktu itu
Pekan depan setelahnya
Kulihat seragam merah muda
Melintas dengan gagahnya
Ada dia bersama mereka
Waktu itu
Ada namanya di balik bajunya
Di atas nomor punggungnya
Ku lihat … ku tatap…
Oh itukah namanya
Sejak saat itu
Aku rutin memperhatikannya
Menunggu ia tiba
Sambil menyiram bunga
Sejak saat itu
Hatiku
Berdegup hebat
Setiap ia lewat
Saat ia datang
Hingga ia pulang
Waktu itu
Ia tak membalas pesanku
Aku tak tahu
Aku membisu, kelu, dan
ragu
Aku mengakhiri semua itu
Waktu itu
Ia datang padaku
Bertanya banyak hal tentangku
Memperhatikanku
Membuatku tersenyum dan malu
Waktu itu
Kami menjadi satu
Dia dan aku
Memangkas waktu
Membunuh kelabu
Ya, hanya dia dan aku
Waktu itu
Ia pergi meninggalkanku
Membakar mimpiku
Menusuk inginku
Waktu itu
Ia kembali
Membawa kembali sang mentari
Dan aku, terseyum lagi
Waktu itu
Ia pergi lagi
Aku tak mengerti
Apakah aku masih ada dalam hati
Waktu itu
Ia kembali
Aku menerimanya lagi
Aku sedikit ragu
Namun semua mengalir bersama waktu
Waktu itu
Lagi lagi
Ia pergi
Meninggalkanku lagi
Aku tak mengerti
Rasa itu
Memang tak selamanya mekar
Rasa itu
Memang bisa saja pudar
Waktu itu
Ia pergi
Dan tak pernah kembali lagi
Menyadari
Aku bukanlah siapa siapa lagi
Aku tak lagi ada di hati
Bahkan ada sang pengganti
Waktu itu
Aku bodoh sekali
Tidak ada komentar:
Posting Komentar