Senin, 02 November 2015

Waktu Itu

Waktu itu
Aku pertama kali melihatnya
Beraksi dengan jemari tangannya
Menggiring bola menuju keranjangnya

Waktu itu
Aku bertanya
Siapakah dia?
Bolehkah aku tahu namanya
Dan beteman dengannya


Waktu itu
Pekan depan setelahnya
Kulihat seragam merah muda
Melintas dengan gagahnya
Ada dia bersama mereka

Waktu itu
Ada namanya di balik bajunya
Di atas nomor punggungnya
Ku lihat … ku tatap…
Oh itukah namanya

Sejak saat itu
Aku rutin memperhatikannya
Menunggu ia tiba
Sambil menyiram bunga

Sejak saat itu
Hatiku
Berdegup hebat
Setiap ia lewat
Saat ia datang
Hingga ia pulang

Waktu itu
Ia tak membalas pesanku
Aku tak tahu
Aku membisu, kelu, dan  ragu
Aku mengakhiri semua itu

Waktu itu
Ia datang padaku
Bertanya banyak hal tentangku
Memperhatikanku
Membuatku tersenyum dan malu

Waktu itu
Kami menjadi satu
Dia dan aku
Memangkas waktu
Membunuh kelabu
Ya, hanya dia dan aku

Waktu itu
Ia pergi meninggalkanku
Membakar mimpiku
Menusuk inginku

Waktu itu
Ia kembali
Membawa kembali sang mentari
Dan aku, terseyum lagi

Waktu itu
Ia pergi lagi
Aku tak mengerti
Apakah aku masih ada dalam hati

Waktu itu
Ia kembali
Aku menerimanya lagi
Aku sedikit ragu
Namun semua mengalir bersama waktu

Waktu itu
Lagi lagi
Ia pergi
Meninggalkanku lagi
Aku tak mengerti

Rasa itu
Memang tak selamanya mekar
Rasa itu
Memang bisa saja pudar

Waktu itu
Ia pergi
Dan tak pernah kembali lagi
Menyadari
Aku bukanlah siapa siapa lagi
Aku tak lagi ada di hati
Bahkan ada sang pengganti

Waktu itu
Aku bodoh sekali

Tidak ada komentar:

Posting Komentar